1. Menyambut Sang Kekasih
August 27, 2008 – 12:00 pm*Beberapa tahun yang lalu, nun jauh di pelosok belantara bagian timur Indonesia…*
Dengan hati bergetar ku cari sang bidadari dari semua orang yang lalu lalang di airport.. Menunggu dan menunggu kedatangan sang kekasih hati. Yah aku tahu, dia bukan kekasih ku yang pertama, bahkan yang kedua… dia adalah kekasih yang ke 3! Buset! kok bisa gitu? hahahah
Kekasihku yang pertama Alloh tentunya dan yang kedua Nabi Muhammad SAW, jadi umi yang ke-3 deh heheheh *ku kecup dagu umi yang saat ini ada di sampingku ikut baca blog yang ku buat, hihi, jangan ngiri ya*
Sesosok tubuh semampai terlihat celingak-celinguk mencari barangnya di bagasi. Satu-satunya makhluk terindah yang ku lihat, dengan kerudung hitam dan kulit kuning halus, sangat mudah untuk mengenalnya di tengah-tengah kumpulan warga sekitar yang berkulit hitam. Tidak terlihat gugup di mukanya padahal itu kali pertama dia menginjakkan kaki di bumi cendrawasih, seorang diri pergi dari Malang dan berangkat ke Jakarta, hanya untuk diriku. Seorang lelaki yang beruntung mendapatkannya
Umi, demikian kupanggil dirinya, ku lamar dia meskipun belum pernah bertemu bertatap muka sebelumnya. Tapi dengan niat karena Alloh, semuanya menjadi mungkin dan mudah saja terjadi.
Berbinar mata terlihat di mukanya ketika ku sambut kedatangannya. Inilah kisah awal kebersamaan kami bersama, mencoba mentata rumah tangga, memperjuangkan agama Alloh nun jauh di tanah seberang jawa
.
"Gimana mi.. cape?…", demikian kataku ku bisikkan di kuping ketika mobil jemputan kami mengantar ke kontrakan kami.
"Nggak… biasa aja…", tuturnya sambil menyandarkan kepalanya di bahuku.
Semuanya begitu indah, dengan nikmat iman di dada, dan sang bidadari di sampingku.. sepertinya ku telah mendapatkan surga di dunia. Tapi, akankah hidupku akan menjadi lurus2x saja?
(to be continued)

